Beranda > Materpiece > KEPEMIMPINAN INOVATIF SEBAGAI ALTERNATIF MEMBANGUN KEPERCAYAAN PADA PEMIMPIN

KEPEMIMPINAN INOVATIF SEBAGAI ALTERNATIF MEMBANGUN KEPERCAYAAN PADA PEMIMPIN

Rico Hermawan

Peringkat 33 dari 168 dalam Annual Essay (ANNES) UGM 2009

Kepemimpinan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam suatu bangsa. Berjalannya roda pemerintahan suatu bangsa sangat tergantung pada sosok pemimpinnya. Kepemimpinan suatu negara dapat dianalogikan seperti bagian tubuh yang saling bersinergi. Diibaratkan, ketika kepala kita sakit maka bagian tubuh yang lain akan terganggu, begitu juga ketika kepala kita sehat, maka sehat pula seluruh tubuh kita. Seperti itulah pemimpin kita ibaratkan, ketika kepemimpinan berjalan buruk maka rusaklah negara, namun ketika kepemimpinan dijalankan dengan cara yang baik, maka baik pula pemerintahan tersebut. Sejarah mencatat dunia pernah memiliki pemimpin–pemimpin yang hebat. Sebut saja Mantan Presiden Kuba Fidel Castro yang berhasil membangun Kuba menjadi negara yang sangat makmur sampai sekarang. Kemudian Presiden Mahmoud Ahmadinejad dari Iran, contoh pemimpin yang karismatik, bahkan beliau berani melawan dominasi Amerika Serikat. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kita pernah memiliki pemimpin yang sangat disegani di dunia seperti Ir. Soekarno. Beliau adalah salah satu contoh putra terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Seorang yang berani menentang penjajah bahkan seteah Indonesia merdeka berani menentang dominasi negara-negara kuat seperti Amerika Serikat ataupun Inggris. Dari  beberapa contoh diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa pemimpin itu tidak pernah dilahirkan, tetapi pemimpin ada karena mereka dibentuk. Dibentuk oleh kepribadian yang kuat dan telah menyatu dengan kondisi masyarakat.

Tulisan ini hendak menggambarkan secara spesifik tentang krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan di Indonesia. Sudah menjadi wacana publik bahwa saat ini Indonesia sedang mengalami sebuah krisis multidimensional akibat krisis global yang sedang mendera dunia. Salah satu aspek dimensional yang terkena krisis adalah krisis kepercayaan pada manusianya. Dari 220 juta penduduknya, negara ini mengalami suatu krisis pemimpin. Krisis bukan dalam artian tidak ada satu pun orang yang pantas memimpin, tetapi krisis seseorang yang berani tampil dan membuat perubahan yang revolusioner terhadap negara ini. Selain itu, tulisan ini juga akan menerangkan peran penting bagi pemimpin daerah dalam melakukan terobosan-terobosan dalam membangun daerahnya melalui inovasi–inovasi daerah. Apalagi pada era otonomi daerah dituntut kemandirian bagi daerah untuk membangun daerahnya. Semua ini tidak terlepas dari peranan penting pemimpin daerah sebagai orang di depan untuk berani berinovasi memunculkan program–program yang menunjang pembangunan daerahnya dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Apa sebenarnya inovasi? Inovasi dalam pandangan penulis adalah terobosan-terobosan yang sifatnya merubah, perubahan dari yang tarafnya kecil hingga perubahan yang radikal dan bersifat baru. Inovasi yang dilakukan dapat berupa pelaksanaan reformasi birokrasi, kemudian pemanfaatan SDA yang ada menjadi sumber pendapatan daerah, dan yang terutama inovasi yang dilakukan dalam menunjang pelayanan publik di berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, administrastif, hingga infrastruktur. Menurut hemat penulis inovasi daerah sangatlah penting di era otonomi daerah sekarang dan yang terpenting adalah dengan melakukan inovasi daerah dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap pemimpin. Apalagi saat ini indonesia sedang dilanda krisis keercayaan terhadap pemimpin, dengan keberhasilan melakukan inovasi maka krisis kepercayaan dapat secara perlahan berkurang. Hal ini dapat dibuktikan dan akan penulis jelaskan pada tulisan kali ini.

Era reformasi menjadi titik tolak perubahan hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Diterbitkannya UU No. 22 Tahun 1999 (kemudian direvisi menjadi UU No. 32/2004) tentang pemerintahan daerah menjadi pembatas sejarah baru tersebut. Dengan diberlakukannya otonomi daerah menjadikan pemerintah daerah kini memiliki kekuasaan penuh untuk menyelenggarakan pemerintahan daerah sendiri.

Dengan diberikannya keluasaan untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri, menjadi titik terang bagi perkembangan kepemimpinan di Indonesia. Penyelenggaraan pemerintahan daerah secara penuh dapat mendorong munculnya pemimpin – pemimpin daerah yang lebih berkualitas dan terpercaya, apalagi ditunjang dengan mekanisme pemilihan umum (Pemilu) yang lebih demokratis yaitu melalui pemilihan langsung oleh rakyat. Melalui pemilihan langsung pemimpin daerah akan mendapatkan legitimasi secara penuh dari rakyat. Jika dibandingkan pada era orde baru dimana pada saat itu mekanisme pemilihan bersifat sentrailistik dimana saat itu Gubernur dipilih oleh DPRD, kemudian bupati ditunjuk oleh gubernur dan seterusnya. Hal ini memunculkan delegitimasi dalam pemerintahan karena kepala daerah tidak mendapat mandat secara langsung dari rakyat.

Sejak bergulirnya otonomi daerah yang mulai ditetapkan pada tanggal 1 Januari 2001 menjadi kesempatan emas bagi para calon kepala daerah untuk mengaktualisasikan diri dalam melaksanakan amanat yang diberikan rakyat untuk memimpin daerah. Penulis memberikan kriteria yang harus dimiliki oleh pemimpin daerah. Pertama, pemimpin harus memiliki visi yang dapat disesuaikan dengan kondisi daerah yang dipimpinnya. Seorang pemimpin daerah dapat dikatakan visioner ketika dia berorentasi pada kualitas, nilai-nilai, dan tujuan sekaligus mampu menghargai aspek kemanusiaan. Ia lebih bersikap proaktif daripada reaktif dan secara kreatif menciptakan berbagai peluang yang mungkin untuk perbaikan agar tercapainya pemenuhan kebutuhan kemanusiaan. Kedua, pemimpin harus berani berinovasi terhadap sumber daya yang dimiliki daerahnya. Di era globalisasi sekarang ini dibutuhkan berbagai program yang inovatif dari pemimpin khususnya dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Daerah dituntut menjadi agen pemerintah ketika pemerintah pusat tidak mampu untuk menyelenggarakan pelayanan publik. Sebagai contoh daerah mengambil alih pelayanan publik dalam bidang pendidikan atau kesehatan masyarakat.

Sejak diberlakukan otonomi daerah telah muncul daerah – daerah yang berani berinovasi terhadap daerahnya, bahkan program inovasi yang dilaksanakan berhasil mendapatkan prestasi yang membanggakan baik dari nasional maupun internasional. Daerah yang memiliki sumber daya alam yang berlimpah tidak akan menjamin daerah tersebut lebih sejahtera, tetapi kembali kepada pemimpinnya, bagaimana memanfaatkan kelebihan yang melimpah itu dengan berbagai inovasi.

CONTOH DAERAH YANG BERHASIL MELAKSANAKAN INOVASI

Penulis mencoba menampilkan beberapa contoh daerah yang berhasil melaksanakan inovasi di daerahnya pasca pemberlakuan otonomi daerah.

  1. Kabupaten Jembrana

Kabupaten Jembrana adalah salah satu daerah yang berada di Propinsi Bali. Daerah ini merupakan salah satu daerah yang terbilang miskin di Propinsi Bali. Namun berkat keberanian bupatinya yaitu I Gede Winasa (2000–2005), kabupaten ini berhasil melakukan inovasi daerah. Kabupaten Jembrana dikenal sebagai salah satu Daerah yang dianggap berhasil dalam era Otonomi Daerah pasca diberlakukannya UU No. 22 Tahun 1999. Hal ini dikarenakan sejumlah program inovasi yang diberlakukan oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana yang terbukti mampu mengangkat derajat perekonomian dan kehidupan masyarakatnya. Sebut saja program inovasi di bidang pendidikan melalui pembebasan biaya pendidikan tingkat SD sampai SMU Negeri serta beasiswa untuk siswa SD sampai SMU Swasta; di bidang kesehatan melalui Jaminan Kesehatan Jembrana (JKJ) yang memberikan kebebasan akses masyarakat untuk berobat secara gratis pada PPK 1 baik negeri maupun swasta yang memiliki kerja sama dengan Badan Pelaksana JKJ; serta di bidang ekonomi melalui Program Dana Bergulir dan sejumlah program lain yang digulirkan dalam upaya meningkatkan daya beli masyarakat Jembrana. Selain itu Kabupaten Jembrana juga berhasil melakukan program inovasi ­dalam bidang e-government. Program e-gov ini dilaksanakan untuk menunjang segala aspek kehidupan terutama dalam penyelenggaraan pelayanan publik.

2. Kabupaten Musi Banyuasin

Kabupaten Musi Banyuasin berada di Propinsi Sumatera Selatan. Musi Banyuasin merupakan salah satu kabupaten yang terisolir dari 14 kabupaten lain di Sumatera Selatan, namun dibawah kepemimpinan Bupati Alex Noerdin ketika itu daerah tersebut berhasil melakukan inovasi daerah terutama dalam pemenuhan pelayanan publik di Musi banyasuin. Seperti pada bidang pendidikan dengan memberikan pendidikan gratis 12 tahun dari tingkat SD hingga SMA. Musi Banyuasin tercatat sebagai daerah pertama yang pertama kali melaksanakan pendidikan gratis di Indonesia pasca diberlakukannya otonomi daerah. Kemudian pembangunan infrastruktur yang inovatif , seperti yang terjadi pada bidang pelayanan air bersih dengan membangun instalasi – instalasi pengolahan air bersih dengan kualitas langsung layak minum. Percepatan pembangunan juga dilakukan pada bidang telekomunikasi dengan melakukan kerjasama dengan Telkom untuk membangun Satuan Telepon Otomat (STO) yang hingga saat ini telah tersebar 6000 STO di kabupaten Musi Banyuasin. Kebijakan lain, bagi setiap penduduk yang memiliki KTP Musi Banyuasin, tak peduli berapapun usianya, otomotis menjadi peserta asuransi jiwa. Santunan diberikan kepada keluarga yang meninggal dunia, mulai ratusan ribu rupiah hingga 2,5 juta. Adanya fasilitas dan pelayanan-pelayanan yang berbasis masyarakat tersebut, tak lepas dari tekad dan upaya pemda untuk segera mewujudkan Musi Banyuasin Sejahtera 2006.

3. Propinsi Gorontalo

Propinsi Gorontalo merupakan propinsi ke- 32 di Indonesia. Sebelumnya, Gorontalo merupakan bagian dari Propinsi Sulawesi Utara, namun seiring dengan munculnya pemekaran wilayah berkenaan dengan diberlakukannya otonomi daerah Gorontalo nenjadi daerah hasil pemekaran dari Propinsi Sulawesi Utara sejak diterbitkan UU No. 38 Tahun 2000.  Propinsi Gorontalo menjadi salah satu contoh daerah pemekaran yang terbilang berhasil. Kesuksesan ini dapat dibuktikan dengan banyaknya penghargaan yang diberikan kepada daerah ini atas keberhasilannya melaksanakan otonomi daerah serta menjadi daerah percontohan otonomi daerah dari pemerintah. Tidak hanya penghargaan nasional yang diperoleh, tetapi juga berhasil mendapatkan penghargaan dari badan–badan dunia seperti Bank Dunia. Keberhasilan ini tidak dapat dilepaskan dari peran Gubernur Gorontalo Dr. Ir. Fadel Muhammad yang berhasil melakukan sejumlah inovasi daerah. Diantaranya pada program pertanian yaitu dengan menjadikan sektor pertanian sebagai pemain depan dalam pembangunan. Program Dji Sam Soe (234), 2 hektar tanah, 3 kali panen dan 4 ekor sapi berhasil memajukan petani Gorontalo, program Agropolitan dengan mengembangkan komoditas jagung melalui manajemen kewirausahaan, meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui konsep Taksi Mina Bahari. Kemudian tranparansi dalam pengelolaan keuangan daerah serta reformasi birokrasi. Dalam bidang pendidikan dengan melakukan kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi di indonesia, memberikan tunjangan hidup kepada para pendidik dan tenaga kependidikan, pengadaan buku secara besar–besaran. Program-program inovatif tersebut telah mengganjar Propinsi Gorontalo dengan berbagai penghargaan, seperti ditetapkan sebagai daerah percontohan otonomi daerah dan penghargaan dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) Republik Indonesia.

Masih banyak lagi daerah-daerah yang telah berhasil melakukan inovasi daerah seperti Kabupaten Kebumen, Kab. Lamongan, Kab. Karanganyar, Kab. Kutai Timur, Kab. Sragen, Kab. Sleman, Kab. Tanah Datar. Dengan keberhasilan beberapa daerah diatas melakukan program-program yang bersifat inovatif semoga dapat mendorong daerah-daerah lain untuk meniru langkah mereka demi terciptanya kesejahteraan rakyat.

INOVASI DAERAH MENINGKATKAN ELEKTABILITAS PEMIMPIN

Otonomi daerah terbukti telah memberikan rangsangan baru bagi terciptanya pemimpin baru yang lebih visioner. Sebut saja Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad yang telah berhasil membuat Gorontalo menjadi propinsi yang berhasil melaksanakan otonomi daerah walaupun usia Gorontalo yang terbilang paling muda di Indonesia. Keberhasilan Fadel Muhammad ini juga membuat elektabilitas dia meningkat dengan terpilih kembalinya dia dalam pemilihan Gubernur Gorontalo periode kedua. Bahkan daerah lain yang juga berhasil melaksanakan inovasi daerah yaitu Musi Banyuasin telah menjadikan bupatinya saat itu Alex Noerdin terpilih sebagai Gubernur Sumatera Selatan. Hal ini juga diikuti oleh Bupati Kebumen Hj. Rustriningsih yang berhasil memajukan Kabupaten Kebumen dengan sejumlah inovasi telah menjadikannya terpilih kembali pada periode kedua kepemimpinanya dan bahkan saat ini telah menaikan pangkatnya menjadi Wakil Gubernur Jawa Tengah.

Kesimpulan yang dapat penulis ambil adalah keberhasilan pemimpin daerah dalam memajukan daerahnya dengan berbagai program yang bersifat inovatif telah menaikan elektabilitas mereka sehingga mendapat kepercayaan masyarakatnya untuk terus memimpin.

KESIMPULAN

Keberhasilan sejumlah pemimpin membuat program-program yang inovatif merupakan salah satu contoh keberhasilan dari pelaksanaan otonomi daerah. Apalagi dimasa krisis multidimensi yang terjadi di Indonesia, keberhasilan para pemimpin ini telah menutupi segala kemungkinan terburuk yang dapat terjadi. Sebagai contoh, di masa pelayanan publik seperti pendidikan dan kesehatan menuntut biaya yang mahal, daerah muncul dengan berbagai program yang membebaskan masyarakat dari biaya untuk mendapatkan layanan tersebut. Semua ini tidak terlepas dari peran penting pemimpin daerah untuk berani menampilkan sesuatu yang baru melalui program yang inovatif.

Keberhasilan pemimpin dalam berinovatif menjadikan mereka sebagai bintang dalam pertunjukan dimana masyarakat tidak ingin pertunjukannya selesai. Hal ini terbukti dengan banyaknya pemimpin yang terpilih untuk memimpin kembali pada periode berikutnya, sebut saja Fadel Muhammad dan Rustriningsih.  Keduanya terpilih untuk periode kedua bahkan Rustriningsih kini telah menduduki posisi Wakil Gubernur Jawa Tengah. kemudian yang lebih fenomenal ketika keberhasilan Kabupaten Musi Banyuasin diikuti oleh keberhasilan bupatinya yaitu Alex Noerdin terpilih menjadi Gubernur Sumatera Selatan.

Kesimpulan dari penulis terhadap tulisan ini adalah bahwa menurut hemat penulis, strategi pemimpin daerah untuk menciptakan inovasi di daerah merupakan salah satu cara terbaik untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan. Krisis kepercayaan pemimpin di Indonesia dapat diakhiri apabila para pemimpinnya berani untuk berinovasi memunculkan program-program baru dan yang dilaksanakan atas nama untuk menyejahterakan rakyat.

Kategori:Materpiece
  1. 24/09/2009 pukul 12:44 pm

    peringkat 33nya itu loo…

    pake dicantumin segalaaa…

    gayyyaaaa….

    wuuuu

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: