Beranda > Hal Baru > Konsep Negara Integral Prof. Soepomo

Konsep Negara Integral Prof. Soepomo

Oleh : Rico Hermawan*

Konsep mengenai negara integralis Supomo pertama kali diungkapkan kepada Panitia Penyelidik Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 31 Mei 1945. Dalam pidatonya mengenai bentuk negara tersebut, garis besar mengenai bentuk sebuah negara yang cocok diterapkan ke dalam masyarakat Indonesia adalah konsep negara yang bersandar atas kekeluargaan.

Supomo menjelaskan bahwa kondisi yang berbeda yang terdapat di setiap negara dan masyarakat menyebabkan tidak adanya sebuah sistem baku yang dapat diterapkan di berbagai macam negara. Oleh karena itu Supomo menganjurkan untuk membentuk sebuah sistem yang sesuai dengan struktur sosial masyrakat Indonesia.

Supomo dengan tegas menolak konsep individualisme yang dianggap telah gagal dalam penerapannya di negara-negara Eropa. Supomo menyatakan bahwa individualisme telah menimbulkan imperialisme dan sistem memeras, yang menyebabkan Eropa jatuh ke dalam krisis rohani. Akan tetapi Supomo tidak beralih kepada lawan dari individualisme Eropa yaitu Sosialisme yang diterapkan di Soviet, karena dianggap tidak sesuai apabila diterapkan di Indonesia.

Supomo menawarkan model pemerintahan yang dianut di Jerman semasa pemerintahan NAZI, yang oleh Supomo dianggap memiliki nilai ketimuran. Supomo mendasarkan pendapatnya ini kepada paham nasionalis sosialis dimana terdapat persatuan antara pimpinan dan rakyat dan prinsip persatuan dalam negara seluruhnya.

Supomo juga mengambil contoh dari Jepang dimana dianut paham bahwa negara bersandar atas kekeluargaan. Sehingga pada akhirnya kesimpulan yang diambil oleh Supomo adalah persatuan dan kekeluargaan sangat sesuai dengan corak masyarakat Indonesia.

Konsep negara yang ditawarkan oleh Supomo ini kemudian disebut negara integralis atau negara totaliter. Supomo mengungkapkan bahwa persatuan antara rakyat dan negara diwujudkan dalam adanya pengawasan gerak-gerik masyarakat oleh kepala rakyat agar dapat senantiasa bermusyawarah dengan rakyatnya atau dengan kepala-kepala keluarga dalam desanya, agar supaya pertalian batin antara pemimpin dan rakyat seluruhnya senantiasa terpelihara.

Gagasan mengenai hubungan pemimpin dengan rakyat oleh Supomo itu didasari oleh konsep makrokosmos dan mikrokosmos Jawa, dimana dalam makrokosmos dijelaskan bahwa alam semesta ini berpusat kepada Tuhan sedangkan mikrokosmos adalah perwujudan makrokosmos dalam kehidupan sehari-hari manusia. Seseorang individu harus berpusat pada pemimpinnya dan memiliki kewajiban-kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan seperti layaknya alam semesta berpusat kepada Tuhan.

Supomo mengakhiri pidatonya sekaligus konsepnya mengenai negara integralistik atau totaliter dengan menyatakan bahwa negara tidak menghilangkan keberadaan golongan-golongan dalam masyarakat, akan tetapi segala seseorang dan segala golongan harus tunduk kepada negara.

Konsep negara integralistik yang dimunculkan oleh Supomo ini mengacu kepada pemikiran Hegel mengenai negara. Hegel membagi kehidupan sosial ke dalam tiga tingkat. Tingkat pertama adalah kehidupan dalam keluarga. Di sini manusia sejak kecil belajar tentang otoritas, tanggung jawab dan cinta.  Pada tingkat kedua adalah kehidupan dalam masyarakat sipil. Jika pada tingkat pertama cirinya didasarkan pada semangat kebersamaan dan tanggung jawab (dalam hubungan ayah terhadap anak misalnya), maka pada tingkat kedua ini cirinya yang utama adalah kompetisi dan pengejaran kepentingan diri yang tak terkendali.  Masyarakat sipil, buat Hegel, adalah satuan-satuan tanpa bentuk yang terlalu di dasarkan kepada pengejaran kepentingan ekonomi. Dari tingkat kehidupan pertama yang luhur dan penuh cinta, setelah dewasa manusia terpaksa harus terjun ke dunia persaingan yang keras.
Untuk mengimbangi dan mengatur masyarakat sipil diperlukan hadirnya negara atau pemerintahan yang kuat dan korporatis. Jika ini bisa tercapai maka tahap kehidupan sosial yang ketiga tercapai. Di tahap ini pendulum bergerak kembali, dari kompetisi kembali lagi ke harmoni. (http://forum.detik.com/#_ftn1) Dan bagi Hegel, yang menjadi motor penggerak dalam tahap ketiga ini adalah kaum birokrat. Kaum ini oleh Hegel disebut sebagai “kelas universal,” kumpulan pemimpin dan pengatur yang kira-kira memiliki kualitas seperti philosopher-king-nya Plato. Merekalah yang membimbing masyarakat ke arah harmoni dan kebebasan yang sejati. Jika semua ini tercapai maka “sejarah pun berhenti” dan masyarakat tidak lagi mengalami konflik-konflik yang mendasar.

Dalam perkembangan selanjutnya, Hegel memberi inspirasi kepada dua kelompok pemikir, yaitu kaum Hegelian kanan dan kiri. Kaum kanan menggunakan ide negara korporatis Hegel untuk membela sebuah argumen bahwa individu dan negara pada dasarnya satu dan sebangun: kita tidak perlu melihat keduanya dalam hubungan yang konfliktual.  Yang diperlukan oleh individu karenanya bukanlah jaminan hak-hak perorangan, tapi pelaksaan kewajiban kepada negara, pengabdian dan disiplin. (http://forum.detik.com/#_ftn3)

Berdasarkan konsep dari Hegel diataslah maka Supomo menciptakan sebuah bentuk negara yang memiliki susunan masyarakat yang integral, segala golongan, segala bagian, segala anggotanya berhubungan erat satu sama dan merupakan persatuan masyarakat yang organis yang sesuai dengan nilai-nilai masyarakat Indonesia.

Nilai-nilai masyarakat Indonesia yang dimaksud oleh Supomo adalah nilai-nilai tradisionalisme Jawa dengan konsepsi kosmologisnya. Di dalam negara yang menyatu, maka kekuasaan adalah tunggal, dan tidak bisa dipecah-pecah. Nilai lain yang terkandung dalam konsepsi Jawa adalah kekuasaan yang menyebar akan melahirkan ketidakseimbangan (disharmoni) antara dunia mikro dan makro. Oleh karena itu, kekuasaan adalah satu kesatuan tunggal antara rakyat dan pemimpin (kawulo dan gusti).

Negara menurut Supomo tidak memihak kepada sesuatu golongan yang paling kuat atau yang paling besar dan tidak menganggap kepentingan seseorang sebagai pusat mengalahkan kepentingan orang lain. Oleh karena itu Supomo menolak teori Montesquieu tentang pemisahan kekuasaan (separation power), dan menganjurkan pembagian kekuasaan (distribution of power) antara legislatif, eksekutif dan yudikatif.

Konsep negara integralis Supomo atau negara totaliter banyak mengalami penentangan, terutama karena idenya mengenai kekuasaan pemimpin. Kritik yang paling pertama terhadap negara integralistik adalah dari Muhammad,Hatta.

Hatta dengan tegas menolak sebuah negara integral berdiri di tanah Indonesia karena negara seperti itu memberikan peluang dan legitimasi terhadap kekuasaan yang mutlak pada negara. Sebab, dalam perspektif negara dan rakyat menjadi satu sehingga tidak ada pemisahan antara negara dan rakyat, maka dianggap tidak perlu ada kekhawatiran bahwa negara akan menindas rakyatnya.

Apabila negara menganut konsep integralistik maka segala tindakan yang dilakukan oleh negara atau pemerintah, walaupun itu berarti mengambil hak-hak asasi manusia seorang individu atau golongan, maka tidak akan dianggap sebagai kejahatan karena tindakan tersebut diambil dalam rangka menyelenggarakan kekuasaan.

Kritik lain terhadap konsep integralistik Supomo adalah bahwa dengan dianutnya sistem integralistik di dalam praktek ketatanegaraan, maka perkembangan demokrasi menjadi terhambat karena konsep negara integralistik mendukung munculnya negara yang otoriter.  Salah satu akibat serius dari otoriterisme politik di Indonesia pada waktu yang lalu adalah tidak adanya pelembagaan oposisi. Ketiadaannya oposisi dapat menciptakan sistem demokrasi yang dikuasai oleh mayoritarianisme.

Tendensi monopoli kebenaran berdasarkan prinsip the winner takes all dalam politik mayoritarianisme, dapat dikendalikan melalui prinsip falibilisme (fallibilism) di dalam etika demokrasi. Menurut Rocky Gerung, prinsip falibilisme berusaha meyakinkan bahwa keberadaan oposisi sangatlah penting di dalam sebuah negara.

“Falibilisme sendiri hendak memastikan bahwa demokrasi justru bertumpu pada pandangan bahwa kesalahan dan penyimpangan merupakan posibilitas tertinggi dari kekuasaan, dan oleh karena itu kritik dan oposisi harus menjadi permanen di dalam kehidupan demokrasi.”

Franz Magnis Suseno melihat bahwa konsep integralis sudah dimanifestasikan ketika OrdeBaru menutup mata kepada demokrasi liberal atau demokrasi parlementer, dengan alasan bentuk demokrasi tersebut terlalu mengedepankan paham individualis yang tidak sesuai dengan nilai-nilai ketimuran yang dianut oleh bangsa Indonesia.

Oleh karena itu Orde Baru menggunakan sistem demokrasi pancasila dan mengedepankan semangat ketimuran yang kolektif sebagai argumennya dalam menolak sistem demokrasi liberal.

Franz Magnis Suseno mengungkapkan bahwa sistem pemerintahan otoriter yang dimungkinkan muncul karena adanya kekuasaan tanpa batas yang dimiliki negara adalah penyebab dari krisis multidimensi yang dialami Indonesia pada masa sekarang ini. Franz Magnis Suseno juga mengkritik pendapat bahwa sistem otoriter adalah sistem yang cocok untuk diterapkan di Indonesia secara khusus dan Asia Tenggara secara umum.

Kesimpulan dalam bahasa yang lebih sederhana adalah, penerjemahan “nilai ketimuran” oleh Supomo yang terinstitusionalisasi lewat pemerintahan Orde Baru telah melumpuhkan demokrasi dalam hal ini peranan oposisi dan pemisahan kekuasaan.

Ketiadaan oposisi dan sentralisasi kekuasaan telah menyumbang bagian yang cukup besar di dalam krisis multidimensi di Indonesia. Sebagai bahan renungan untuk Indonesia di masa depan, ada baiknya kita tidak lagi terjebak dengan peluang untuk memberikan legitimasi tunggal kepada kepala pemerintahan.

Dalam artian, negara harus terdiri dari pemerintah dan oposisi sebagai kendaraan untuk aspirasi rakyat yang berbeda dengan pemerintahan. Isu yang lebih hangat dalam konteks Pemilu 2009 adalah mengenai koalisi dengan pemenang pemilu legislatif.

*Rico Hermawan, Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara UGM.

Kategori:Hal Baru
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: