Beranda > Uncategorized > Saatnya Membangunkan (Kembali) Si Macan Asia

Saatnya Membangunkan (Kembali) Si Macan Asia

Oleh : Rico Hermawan

Seperti kita ketahui bersama, Sepak Bola Indonesia saat ini sedang mengalami transformasi, bukan ke arah yang positif melainkan negatif. Dari bobroknya manajemen PSSI hingga para pemain timnas yang melempem berhadapan dengan musuh. Contoh terakhir adalah ketika dibantai oleh semifinalis Piala Dunia 2010 Uruguay dengan skor yang sangat “menyakitkan” 7-1. Apalagi pertandingan dilaksanakan di kandang sendiri. Walupun beberapa hari kemudian kita menang 3-0, tetapi ketika itu musuh yang kita hadapi adalah Maladewa, negara yang secara tradisi sepak bola berada satu level di bawah kita.

Sepak bola adalah olah raga favorit bangsa ini. Publik sangat berharap melalui sepak bola, negara ini bisa merambah dunia internasional. Lolos ke Piala Dunia pun sudah digadang-gadang oleh Presiden SBY, harapan yang tentunya tidak mustahil untuk negeri berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa ini. Masak mencari 11 pemain berkualitas saja tidak ada? Harapan ini kemudian menjadi sebuah tantangan untuk induk organisasi terbesar, PSSI. Untuk memenuhi hasrat tampil di Piala Dunia, jalan pintas pun digunakan. Masih ingat diingatan kita ketika PSSI mengikuti pencalonan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022. Dengan menjadi tuan rumah maka akan secara otomatis lolos ke Piala Dunia. walaupun pada akhirnya Presiden SBY mawas diri untuk menolak rencana tersebut karena negara ini belum memiliki prestasi yang membaggakan untuk menjadi tuan rumah.

Indonesia sebagai negara besar memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi negara kuat. Sayangnya potensi ini ditindih oleh segudang masalah yang membelenggunya. Sorotan pertama adalah mengenai legitimasi Ketua Umum PSSI. Sudah menjadi berita bahwa tingkat kepercayaan publik terhadap ketua umum sudah sangat menurun. Tuntutan untuk mundur pun sudah menjadi agenda masyarakat dalam rangka melakukan reformasi di tubuh PSSI. Apalagi ditambah dengan catatan hitam sebagai mantan koruptor yang menambah semakin bopeng wajah PSSI. Maka dari itu, para pemimpin PSSI perlu mengedepankan sikap legowo dan mawas diri. Berani mengakui kegagalan dan bersedia mundur jika memang sudah tidak dikehendaki oleh rakyat.

Permasalahan kedua adalah mengenai perpecahan di dalam pelaksanaan liga. Sudah kita ketahui saat ini bahwa telah muncul liga tandingan yang mengatasnamakan dirinya “Liga Premier Indonesia (LPI). Menurut para pencetusnya, LPI merupakan suatu bentuk arah baru pelaksanaan liga sepak bola yang lebih profesional. Tidak adanya penggunaan dana APBD dan pengelolaan klub yang lebih profesional adalah nilai tambah yang ditawarkan LPI. Namun bagaimana pula, hal ini merupakan salah satu bentuk kemunduran sepak bola Indonesia. Secara nyata hal ini menandakan bahwa PSSI memang dianggap tidak becus dalam pengelolaan liga. Manajemen klub yang tidak profesional dan penuh unsur politis, penggunaan dana rakyat (APBD) untuk anggaran klub, mafia wasit, dan sebagainya merupakan beberapa alasan yang menandakan bahwa selama ini memang liga sepak bola kita jauh dari kata baik. Maka dari itu perlu adanya konsolidasi antara seluruh pengurus PSSI dan klub-klub. Baik PSSI dan klub harus berani melakukan terobosan. Sebagai contoh melepas ketergantungan terhadap dana APBD. Ketiga adalah masalah nasionalisme pemain. Jika kita lihat, salah satu penyebab kekalahan timnas terhadap negara lain adalah kurangnya jiwa nasionalisme pemain. Sikap pantang menyerah dalam kondisi apapun perlu dikedepankan, baik dalam bertanding maupun dalam latihan. Dengan kerja keras, niscaya keberhasilan ada didepan kita.

Layaknya seekor macan, Indonesia adalah seekor macan yang sedang tertidur. Sebutan sebagai Macan Asia memang pernah melekat bagi Indonesia. Kita ketahui bahwa Indonesia ketika zaman 70-80an cukup diperhitungkan di Asia, bahkan pernah hampir lolos ke Piala Dunia 1986 sebelum dikalahkan Korea Selatan di babak-babak akhir. Jadi layaknya Macan Asia yang sedang tertidur, sudah saatnya Indonesia kita bangunkan, kita tidak ingin melihat negeri ini kian terpuruk, sebgai acuan saja, rangking Indonesia kini kian melorot ke rangking 141 dari 203 negara anggota FIFA.

Niatan untuk berubah yang selama ini telah dicanangkan hendaknya dilaksanakan dengan sepenuh hati. Setidaknya jiwa nasionalisme pada diri pengurus PSSI dan pemain timnas perlu dikedepankan. Apabila jiwa nasionalisme ini sudah kita kedepankan, maka tentunya akan berimbas pada perubahan mental kita sendiri. Mental yang berani mengatakan bersalah, berani bertanggung jawab, dan berani terhadap siapapun. Dukungan moral tentunya tidak akan pernah surut diberikan oleh seluruh masyarakat pencinta sepak bola Indonesia. Apalagi suporter kita diakui sebagai salah satu suporter yang paling setia membela klub/timnas-nya, meskipun klub/timnas dalam keadaan terpuruk mereka tidak henti-hentinya mendukung. Bangku-bangku penonton dipastikan tidak akan pernah kosong ketika bertanding. Jika tidak dibangunkan segera, maka jangan harap posisi itu akan naik, bahkan ironisnya bisa saja turun lebih dalam lagi. Segenap rakyat tak akan berhenti mendukung.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: